-
Sepanjang Jalan Braga
Dua pasang mata menatap sebuah lensa, lalu tersenyum. Sesaat suara click terdengar, Dina dan Ardhi pun berhamburan ke arah kamera yang diletakkan di atas sebuah bangku.
-
Kerudung Merah
Hari seperti ini, seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan bagi sepasang kekasih yang menjalani hubungan jarak jauh. Apalagi hari ini dia datang bersama keluarganya. Orang-orang yang seharusnya membuatku bahagia bertemu mereka pertama kalinya.
Tapi bagiku, ini akan menjadi hari yang penuh dengan kepura-puraan. Hari di mana aku harus berpura-pura rindu, pura-pura cinta, padahal sudah tidak ada lagi rasa.
-
Jingga di Ujung Senja
Setiap senja, seperti biasa.
Hiruk pikuk masyarakat di pinggiran Sungai Musi, tiada kuasa melawan bising pikiran.
Megahnya Jembatan Ampera, hanya menyulut birahi kenangan yang menggagahi seisi kepala.
Kamu, muara ingatan. Alasan mengapa di tepi sungai ini aku hanya berpangkutangan.
-
Menunggu Lampu Hijau
“Selalu saja mempermasalahkan hal-hal kecil, penuh kecurigaan.”
“Tapi, Mas..”
“Sebentar saja aku tidak mengabarimu, langsung saja kamu menghujaniku dengan pertanyaan. Bukannya membantu, malah menambah masalahku di sana-sini.”
Dita tertunduk lesu. Sesekali menyanggah dengan ketakutan luar biasa.
“Enggak begitu..”
“Enggak apanya?” Nada suara Rizal meninggi, kesekian kalinya ia memotong omongan Dita. “Aku pusing. Aku mau serius dengan pendidikan, kuliah, tugas akhir. Itu kan yang jadi tuntutan keluargamu? Panek ambo!” Sesekali logat dan Bahasa Minangnya menyatu dengan kata-kata lainnya.
Pukul 8 malam, kurang 15 menit. Dita menatap nanar angka-angka pada Jam Gadang. Sudah 20 menit Dita dan Rizal duduk di depannya, tapi lebih dari setengah waktunya dihabiskan Dita untuk mendengar kemarahan Rizal. Bahkan kata-kata Rizal lebih cepat dari gerak jarum jam di belakang mereka.