-
Yang Paling Dinanti di Dermaga Itu
‘Yang paling dinanti di dermaga itu, ialah angin.
Yang menuntun layar-layar kepulangan, pun kabar-kabar kehilangan.’
Langkahmu gemar mengikuti arah terbit layar.
Matamu giat memerhati siapa yang menurunkan jangkar.
Sementara angin, berlari-lari kecil di telingamu.
“Adakah ia pulang?” tanyamu pada angin bulan pertama.
Pelipismu berombak, seperti ada gemuruh di baliknya.
Guruh dari meja judi, yang menebak-nebak rindu merapat pada angka berapa.
Sementara angin, menelusup di sela rambutmu.
“Adakah ia jelang?” tanyamu pada angin berikutnya.
Di keningmu kecemasan tampak pudar,
gemuruh mulai samar.
Gaduh itu kini berpindah pada ombak yang saling terpa.
Bising itu kini milik klakson kapal yang lepas dari cengkeram dermaga.
Tak seperti biasa.
Sementara angin, berayun-ayun di ujung rokmu.
“Adakah ia hilang?” tanyamu pada angin semusim berselang.
-
Kuntum
‘Yang kau petik itu, kuntum di hatimu. Yang kau patahkan itu, hati bunga di tanganmu.’
Matanya berbinar.
Di hadapnya ada bunga yang hampir mekar.
Kuntum megah, harum mewah.
Pikat pada sepetak pekat tanah.
Dipetiknya bunga itu.
Dihelanya wangi itu.
Belum jeda,
riangnya hilang.
Riak sumringahnya tak tampak.
Rekahnya tak ada, ronanya tiada.
Yang tersisa,
hanya ujung tangkai bergetah.
Ada hati yang baru saja patah.
-
Dialah Waktu
Kitalah daratan bermacam raut. Dialah pelaut.
Kitalah sebaran pulau-pulau. Dialah perantau.
Kitalah gubuk-gubuk tua. Dialah pengembara.
Kitalah samudera. Dialah bahtera.
Kitalah terjal batu pijakan kaki. Dialah langkah pendaki.
Kitalah dahan-dahan batang. Dialah cakar elang.
Kitalah tanah-tanah kekeringan. Dialah penghujan.
Kitalah dasar ngarai. Dialah alir sungai.
Kitalah barisan pustaka. Dialah pembaca.
Kitalah botol-botol bir pengemis teguk. Dialah pemabuk.
Kitalah para jalang. Dialah tuan hidung belang.
Kitalah persimpangan. Dialah pejalan.
Kitalah harap-harap yang menunggu. Dialah Waktu.
-
Sepenggal Sepeninggal
Dinding-dinding keriput,
berselimut lumut.
Genting-genting rapuh.
Langit-langit yang nyaris runtuh.
Kursi kayu renta,
bersandar pada tiang-tiang kerontang.
Menunggu ada yang datang.
Lembab perapian tanpa nyala,
jilatnya lama tiada.
Pintu-pintu terkatup bisu,
menopang lonceng yang bergelantung kelu.
Sepasang jendela sayu,
menatap kosong ringkai daun yang lalu lalang.
Menunggu ada yang datang.
Akulah rumahmu, Sayang.
Berharap kau lekas pulang.
-
Pada Sebuah Senja yang Gerimis
Matahari tenggelam.
Langit menangis.
-
Untuk Gadis yang Berulangtahun di Akhir Tahun
Pada hari terakhir Bulan Desember,
pada sebuah Tahun yang renta, yang usianya sebatas letupan kembang api dan gantungan kalender.
Kami menunggu sebuah perayaan.
Perayaan yang lebih dari sekadar nyala kembang api.
Pesta yang lebih dari sekadar gema terompet di sana-sini.
Ialah pengulangan hari kelahiranmu, puncak di mana seorang gadis dengan pandai melipatgandakan ceria.
Hari di mana doa-doa kami lesatkan ke udara, dengan ledakan berupa-rupa warna.
Tak ubahnya pelita, bagi jelita yang kini beranjak dewasa.
Selamat berulangtahun di akhir Desember, Ceria di ujung kalender kami.
Berbahagialah, sebab orang-orang di sekitarmu,
tak lagi punya alasan untuk tak berbahagia di pergantian tahunnya.
-
Aku, Si Gila yang Pendiam
Aku tidak malu dikenal sebagai pemalu, jika yang membuatku malu adalah aku memalukan di depanmu.
Aku diam saja dikenal sebagai pendiam, jika sebab ku terdiam adalah aku sedang memujamu diam-diam.
Aku tidak takut disebut penakut, jika yang kutakutkan adalah ketidaktakutanmu pada kehilangan sosok bernama aku.
Aku tergila-gila menjadi gila, jika sebab ku gila adalah benar-benar menggilaimu.
Sebuah kegilaan yang tidak-tidak, dari seorang pendiam yang tak pernah benar-benar diam.
-
Lalu, Apa yang Rindu Tahu?
Rindu sungguh tak mengerti waktu.
Biru pagi ia jadikan abu-abu, temaram malam tetap ia beri kelabu.
Rindu benar-benar tak kenal malu.
Tanpa permisi datang bertamu, tanpa segan minta dijamu.
Lalu, apa yang rindu tahu?
Mungkin ia hanya tahu bagaimana menghadirkan semu di segala penjuru,
melulu dalam bentuk kamu.
-
Aku (Masih) Seorang Pemimpi
Masih tegap berbekal mimpi, masih banyak mereka yang melihatku gontai.
Masih saja aku bebal, berhenti aku tak kenal.
Logika yang mati rasa bukan sebuah rintangan. Melainkan dentuman meriam yang menembakan semangat. Mengepulkan asap di udara berwujud seperti apa aku kelak.
Keegoisan hati bukanlah hambatan. Melainkan rantai yang menyeret kaki untuk melangkah ke depan, bukan ke belakang. Apalagi berhenti.
Meski untuk kesekian kali, belum juga setengah jalan darah ini melewati nadi, segalanya sering hilang mendadak, dan pergi.
-
Aku Seorang Pemimpi
Aku berjalan tegap berbekal mimpi, tak peduli meski mereka melihatnya gontai.
Logikaku seakan dibutakan oleh keegoisan hati. Buta.. Bisu.. Seakan mati rasa, bagai ditelan kabut keterasingan.
Tapi aku tahu, segalanya berakar dari mimpi. Tiada buah kesuksesan tanpa pernah bermimpi.
Mimpi mampu membakar tungku pikiran untuk tetap berapi.
Mimpi memungkinkan segala yang tidak.